Tekan Kematian Ibu dan Bayi, Dinkes Rangkul Mahasiswa Dampingi Ibu Hamil

Bondowoso – Untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi, Dinas Kesehatan Bondowoso merangkul Mahasiswa Akademi Kebidanan Dharma Praja untuk melakukan pendampingan kepada ibu hamil atau bumil.

Sebanyak 96 mahasiswa akan ikut dalam kegiatan pendampingan ini dan ditempatkan di 8 wilayah puskesmas antara lain, Puskesmas Klabang Tegalampel Prajekan Grujugan Tlogo Tenggarang Binakal dan Wringin. Wilayah puskesmas di 8 kecamatan tersebut banyak ditemukan kasus kematian ibu dan bayi serta bumil yang melahirkan di dukun.

Menurut dr Titik Erna Erawati, Kabid Kesehatan Keluarga Dinkes Bondowoso, angka ibu melahirkan ke dukun masih sangat tinggi. Tahun 2013 lalu tercatat sekitar 400 lebih proses kelahiran bayi ditangani oleh dukun. Sementara tahun ini, terhitung hingga Juli 2014, angka bumil melahirkan ke dukun sudah mencapai 300 lebih dan diperkirakan akan semakin bertambah, mengingat pemerintah pusat telah menghapus dana jaminan persalinan (jampersal) dan digantikan dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sayangnya, belum semua tercover dalam JKN. Ini menjadi salah satu faktor bumil enggan melahirkan di tenaga kesehatan dengan alasan biaya.

Oleh karena itu, untuk menekan resiko kematian ibu dan bayi karena tidak mendapat penanganan kesehatan yang tepat, puluhan mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi partner tenaga kesehatan, untuk memberikan edukasi dan memotivasi bumil agar periksa secara rutin ke tenaga kesehatan.

Mahasiswa juga berperan melakukan deteksi dini dan memantau perkembangan bumil dengan resiko tinggi, memberikan pengetahuan tentang BPJS kesehatan, termasuk mengantar ibu hamil bersalin ke fasilitas kesehatan.

Namun, lanjut dr. Titik, meski diberi kewenangan untuk melakukan pendampingan, mereka tidak diperbolehkan melakukan penanganan medis. Pemeriksaan secara berkala maupun persalinan tetap dilakukan oleh bidan desa atau bidan induk.

” 1 mahasiswa untuk 1 bumil. Sasarannya adalah ibu hamil dengan resiko tinggi dan lahir di dukun. Pendampingan dilakukan mulai ibu hamil sampai nifas dan sesudahnya. Diharapkan semua penanganan ada di nakes,” ujarnya.

Puskemas yang dijadikan tempat melakukan pendampingan bersama mahasiswa telah menyiapkan pemetaan ibu hamil yang akan jadi sasaran pendampingan.

dr Titik menambahkan, program ini merupakan kegiatan uji coba. 2015 mendatang, diharapkan kerja sama dengan mahasiswa bisa diusulkan lagi dengan institusi lain, seperti Akbid, Akper dan Stikes.(Re)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

46 + = 55